Senin, 26 Desember 2011

SITUS GUNUNG PADANG


Pertanyaan mengenai apakah orang-orang Nusantara, Sunda khususnya, merupakan bangsa tua di dunia, kerap terbersit dari pikiran banyak orang begitu mengunjungi situs megalitik Gunung Padang di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Cianjur, Jawa Barat.
Orang-orang sekitar Gunung Padang tak menyebutnya sebagai situs purbakala. Yang mereka tahu tempat itu keramat, sampai kemudian pada 1979 tiga warga kampung itu melaporkan situs tepat di puncak bukit tersebut, ke otoritas purbakala di Cianjur.
Segera daerah itu ditetapkan sebagai cagar budaya untuk bukti keluhuran kebudayaan lokal dan ketinggian peradaban asli Indonesia, khususnya orang-orang yang sekarang mendiami Tatar Pasundan.
Para arkeolog percaya bahwa Situs Megalitik Gunung Padang adalah situs megalitik terbesar di Asia Tenggara.
Situs itu diperkirakan dibangun kira-kira 2.000 tahun sebelum Masehi atau sekitar 2.400 tahun sebelum kerajaan Nusantara pertama berdiri di Kutai, Kalimantan, atau kira-kira 2.800 tahun sebelum Candi Borobudur dibangun.
Melihat susunan batu dan pemilihan panorama lingkungan sekitar situs, siapa pun akan takjub pada betapa tingginya kebudayaan Nusantara purba.
Sumber material bangunan dan kualitasnya yang terpilih, serta orientasinya pada simbol-simbol keilahian khas era purbakala, seperti gunung dan samudera, membuat pengunjung menerawang bahwa betapa agung dan berperspektifnya peradaban purba Nusantara.

Tegak lurus dari situs, berdiri Gunung Gede yang sejak Kerajaan Pajajaran sudah dianggap sakral, atau jangan-jangan masyarakat Pajajaran hanya mewarisi tradisi kuno puak megalitik.
Jika dicermati lebih dalam, situs berisi serakan batu hitam bermotif itu, ternyata memuatkan keteraturan geometris, selain pesan kebijaksanaan kosmis yang tinggi, sebelum agama-agama modern masuk ke Nusantara.
Geometri ujung batu dan pahatan ribuan batu besar dibuat sedemikian teratur rata-rata berbentuk pentagonal. Simbol “lima” ini mirip dengan tangga nada musik sunda pentatonis, da mi na ti na.
Keajaiban-keajaiban itu membuat orang takjub, khususnya para pengunjung situs. Banyak yang menyebut situs ini satu teater musikal purba, sekaligus kompleks peribadatan purba.
Untuk mencapai situs, seseorang harus menapaki dulu 468 anak tangga batu endesit yang direkonstruksi, begitu bukit itu ditetapkan sebagai cagar budaya. Tangga batunya pun dibuat dengan hitungan matematis, dengan bilangan lima terlihat dominan.
Di pelataran undak pertama, pemandangan menakjubkan terhampar dari seluruh konstruksi situs yang disusun dari kolom-kolom batu berdimensi kebanyakan segi lima, dengan permukaannya yang halus.
Batu-batu itu dipasang melintang sebagai tangga dari kaki bukit sampai pintu masuk situs. Di puncak bukit, pada pelataran pertama, pintu gerbangnya diapit kolom batu berdiri.
Sejumlah pakar menilai batu-batu itu tidak dibuat manusia, melainkan hasil proses geologis ketika aliran magma membeku, seperti terbentuknya retakan-retakan poligonal ketika lumpur mengering.
Gunung Padang sendiri diperkirakan terbentuk dari hasil pembekuan magma, sisa gunung api purba era Pleistosen Awal, 21 juta tahun lalu.
Para pakar menilai, gunung itu adalah sumber alamiah kolom batu penyusun konstruksi situs, terbukti dari berserakannya kolom-kolom batu alamiah yang bukan dari reruntuhan situs yang banyak ditemukan di kaki Gunung Padang.

Namun, masyarakat setempat percaya, seperti dituturkan, salah seorang pengelola situs sekaligus pelaku konstruksi situs megalitik Gunung Padang, batu-batu andesit di lokasi situs terlebih dahulu diukir di satu tempat yang kini disebut Kampung Ukir.
Kemudian, dicuci di satu empang yang tempatnya sekarang disebut Kampung Empang yang hingga kini terhampar serakan sisa-sisa ukiran batu purba. Kedua kampung berada sekitar 500 meter arah tenggara Situs Megalitik Gunung Padang.
Batu-batu andesit sendiri hanya ditemui di sekitar Gunung Padang. “Begitu menyeberangi Kali Cikuta dan Kali Cipanggulaan, tak ada lagi batu-batu besi seperti itu. Kali Cikuta dan Kali Cipanggulaan adalah dua sungai kecil yang mengapit situs Gunung Padang yang telah dicatat arkeolog Belanda, N.J. Krom, pada 1914.
Gunung Padang sendiri bukan satu-satunya kompleks tradisi megalitik. Masih ada peninggalan tradisi megalitik sekitar Cianjur di Ciranjang, Pacet, Cikalong Wetan dan Cibeber.
Yang pasti, situs megalitik Gunung Padang yang dapat ditempuh dalam waktu 45 menit dari kota Cianjur itu adalah yang paling menakjubkan dan paling agung.
Sayang, satu kilometer menuju lokasi, kondisi jalan menuju situs amat buruk, di samping penunjuk arah situs yang tak jelas. Lain dari itu, Situs Megalitik Gunung Padang tampaknya harus lebih dirawat dan dilindungi lagi. (*)

SITUS KERAJAAN KENDAN

SITUS KENDAN

Kampung Kendan, berada di Desa Citaman Kecamatan Nagreg, untuk menuju kampong itu, cukup mengendarai roda dari jalan di samping pintu perlintasan kereta api Nagreg. Jaraknya kurang lebih 1 km. Kampung ini sendiri berada di bawah kaki bukit Sanghyang Anjung yang bersebelahan dengan proyek pembangunan TPPAS Legok Nangka.  Kampung Kendan ini diyakini menyimpan sejumlah situs kepurbakalaan yang berasal dari kerajaan Kendan. Di tempat itu, sempat ditemukan patung Durga yang kini disimpan di Museum Nasional Jakarta.
Berdasarkan artikel yang ditulis Prof.Drs. Yoseph Iskandar, alumnus Faculty of Arts and Sciences University of Pittsburgh, Pennsylvania Amerika Serikat, Kerajaan Kendan merupakan sebuah hadiah dari Maharaja Suryawarman, raja ke-7 dari kerajaan Tarumanegara. Hadiah itu diberikan pada Resiguru Manikmaya yang menikahi putri Suryawarman, Tirtakencana. Di kerajaan Kendan ini, Manikmaya dijadikan raja dan raja Suryawarman menyertakan prajurit sebagai tambahan hadiah. Selain itu, Suryawarman juga memberikan mahkota raja dan permaisuri.
Berdasarkan naskah Pustaka Rajyarajya I Bhumi Nusantara parwa II sarga 4, yang selesai ditulis tahun 1602 M di keraton Kasepuhan Cirebon, dikisahkan bahwa Manikmaya berasal dari keluarga Calankayana yang berada di India selatan dan datang ke  dari Jawa Timur.  Ia juga dikenal seorang brahmana ulung yang telah berjasa pada agama. Latar belakang Manikmaya sebagai pemuka agama juga menjadi  alasan Suryawarman memberikan hadiah kerajaan Kendan
Setelah berdirinya Kendan, Suryawarman bahkan menyurati setiap raja di daerah Tarumanegara yang isinya mengenai keberadaan Manikmaya di Kendan harus diterima dengan baik. Suryawarman juga memperingatkan bahwa siapa pun yang berani menolak Raja Kendan yang juga pemuka agama, akan dijatuhi hukuman mati dan kerajaannya akan dihapuskan.
Melihat kebijakan Tarumanegara,  bisa dibilang kerajaan Kendan ini merupakan kerajaan kecil yang sangat dilindungi kerajaan besar seperti Tarumanegara dan juga berada di bawah kekuasannya. Masa kerajaan Kendan sendiri cukup lama, bahkan sempat berganti kepemimpinan sebanyak empat kali. Adapun pada waktu raja Kendan dipimpin Wretikendayun, dia mendirikan pusat pemerintahan baru yang diberi nama Galuh dan diyakini berada di Ciamis dengan ibukota di Kendan.
Setelah memindahkan pusat pemerintahan, dia menyurati kerajaan Tarumanegara yang pamornya sudah pudar bahkan berakhir saat kerajaan Sriwijaya menghancurkannya.Saat-saat berakhir Tarumanegara itu, dalam suratnya, Raja Kendan menginginkan Kerajaan Kendan yang pusat pemerintahannya di Galuh merdeka, terpisah dari Tarumanegara dan menjadi kerajaan sendiri.
Keinginan tersebut akhirnya dikabulkan raja Tarusbawa. Kemudian, kerajaan Kendan berganti nama menjadi Kerajaan Galuh. Pada masa 670 M, berakhirlah kekuasaan Tarumanegara, dan lahir kerajaan baru yakni Kerajaan Pakuan. Pasca berakhir Tarumanegara, kerajaan sunda yang berdiri yakni, kerajaan Galuh di belahan timur tepatnya Ciamis dengan ibu kota Kendan, lalu di belahan barat berdiri kerajaan Pakuan.
Setelah berdiri kedua kerajaan tersebut, diperkirakan pada tahun 1482, kedua kerajaan ini dipersatukan oleh Sri Baduga Maharaja atau yang dikenal Prabu Siliwangi menjadi Kerajaan Sunda Pajajaran.
Hingga kini, belum ada penelitian terkait lokasi persis kerajaan Kendan. Namun yang pasti, di Nagreg tepatnya di kampung Kendan Desa Citaman Kecamatan Nagreg, diyakini disitulah situs kerajaan Kendan pernah berdiri dan kampong ini sangat berdekatan dengan proyek Tempat Pemprosesan dan Pengolahan Akhir Sampah (TPPAS) Legok Nangka.
Adapun terkait lokasi kerajaan Kendan, Bob Ujo dari Kelompok Sejarah Masyarakat Kendan meyakini bahwa kerajaan Kendan berada sangat dekat dengan lokasi TPPAS Legok Nangka Nagreg. Dia menegaskan  pemerintah harus mengevaluasi dulu pembangunan TPPAS, hal itu terkait adanya situs kerajaan Kendan. Jika saja dilakukan penelitian dan ditemukan berada di bawah TPPAS Legok Nangka, itu mengerikan. Bayangkan di atasnya sampah, di bawah ada bekas kerajaan sunda.

MAKOM RESI GURU WATU GUNUNG DI GUNUNG KELING KUNINGAN


berdasarkan persi masarakat kuningan..........


INILAH MAKAM ... : SRI BADUGA MAHA RAJA WATU GUNUNG / SRI BADUGA MAHA RAJA PULASARA, TEMPAT DI DESA. GUNUNG KELING KEC. CIGUGUR KAB.KUNINGAN.

makom Sri baduga maharaja watu gunung
Di Kuningan... dari jaman Purwa sudah ada Tujuh Kerajaan Sang Hyang atau yang dikatakan SIBOLANGIT yaitu :

1. Kerajaan Medang Kamuliaan.
2. Wirata Pura.
3. Amarta.
4. Watu Gunung.
5. Giling Wesi.
6. Indraprahasina Pura.
7. Alengka Dirja.

Sebelum bernama Kerajaan Kalingga, Kerajaan ini bernama Kerajaan KELING.. dg Raja nya Sri Baduga Maha Raja Watu Gunung / Sri Baginda Maha Raja Pulasara yang berkedudukan di Gunung Keling Medang Kuningan, di kaki Gunung Ciremai. Beliau beristrikan Ratu Maharani Simaha, yang kemudian mendirikan Kerajaan Kelingga, kemudian lokasinya bergeser ke arah Timur dari Kuningan.


Beliau Maha Raja Watu Gunung / Prabu Pulasara mendapatkan Perintah dari Yang Maha Wenang untuk NGELINGAN / Keling dari suatu Panji yang sudah tertulis yaitu PULA PALA POLO kepada Sang Hyang Bhatara Wisnu sebagai Maha Raja di Medang Purwa.

Sri Baduga Maha Raja Watu Gunung kemudian memohon kepada Sang Bhatara Wisnu untuk diberikan Kekuasaan kepada Istrinya Ratu Simaha di Wilayah Timur dan kemudian diberi nama KERAJAAN KALINGGA... yang kemudian kelak menurunkan Kerajaan Mataram Kuno.



MAKOM SANG HYANG BATARA WISNU DI LINGGASANA KUNINGAN




 
berdasarkan keyakinan masyarakat kuningan...


Inilah Makom SANG HYANG BATARA WISNU.... , yang Tertutupi dan Terlupakan..!!!

Bertempat di Lereng Gunung Maha Purusa Ciremai, tepatnya di Ds. Linggasana Kec. Cilimus Kuningan. Nama kebesaran atau Gelar yang dimiliki Beliau diantaranya : Sri Baginda Maha Raja Wisnu Warman Jagat Pati Kusuma / Pangeran Arya Adipati Sura Liman Agung / Rd. Kandyawan / Sang Layuwatang / Begawan Sat Mata / PANDU DEWA NATA.

Sang Hyang Batara Wisnu / Pangeran Sura Liman Agung.. memiliki Peran yang sangat penting dg Tiga Langkah Mengukur Alam Semesta, Menggerakan serta Mempertahankan Roda Kehidupan Umat Manusia di Dunia agar tetap Harus Menyakini adanya Sang Maha Pencipta Alam Semesta, Tuhan Yang Maha Esa.


SILSILAH LELUHUR SUNDA

Di dalam Mitologi Jawa diceritakan bahwa salah satu leluhur Bangsa Sunda (Jawa) adalah Batara Brahma atau Sri Maharaja Sunda, yang bermukim di Gunung Mahera.

Selain itu, nama Batara Brahma, juga terdapat di dalam Silsilah Babad Tanah Jawi. Di dalam Silsilah itu, bermula dari Nabi Adam yang berputera Nabi Syits, kemudian Nabi Syits menurunkan Sang Hyang Nur Cahya, yang menurunkan Sang Hyang Nur Rasa. Sang Hyang Nur Rasa kemudian menurunkan Sang Hyang Wenang, yang menurunkan Sang Hyang Tunggal. Dan Sang Hyang Tunggal, kemudian menurunkan Batara Guru, yang menurunkan Batara Brahma.
Berdasarkan pemahaman dari naskah-naskah kuno bangsa Jawa, Batara Brahma merupakan leluhur dari raja-raja di tanah Jawa.


Bani Jawi Keturunan Nabi Ibrahim

Di dalam Kitab ‘al-Kamil fi al-Tarikh‘ tulisan Ibnu Athir, menyatakan bahwa Bani Jawi (yang di dalamnya termasuk Bangsa Sunda, Jawa, Melayu Sumatera, Bugis… dsb), adalah keturunan Nabi Ibrahim.
Bani Jawi sebagai keturunan Nabi Ibrahim, semakin nyata, ketika baru-baru ini, dari penelitian seorang Profesor Universiti Kebangsaaan Malaysia (UKM), diperoleh data bahwa, di dalam darah DNA Melayu, terdapat 27% Variant Mediterranaen (merupakan DNA bangsa-bangsa EURO-Semitik).
Variant Mediterranaen sendiri terdapat juga di dalam DNA keturunan Nabi Ibrahim yang lain, seperti pada bangsa Arab dan Bani Israil.

Sekilas dari beberapa pernyataan di atas, sepertinya terdapat perbedaan yang sangat mendasar. Akan tetapi, setelah melalui penyelusuran yang lebih mendalam, diperoleh fakta, bahwa Brahma yang terdapat di dalam Metologi Jawa indentik dengan Nabi Ibrahim.
Brahma adalah Nabi Ibrahim

Mitos atau Legenda, terkadang merupakan peristiwa sejarah. Akan tetapi, peristiwa tersebut menjadi kabur, ketika kejadiannya di lebih-lebihkan dari kenyataan yang ada.
Mitos Brahma sebagai leluhur bangsa-bangsa di Nusantara, boleh jadi merupakan peristiwa sejarah, yakni mengenai kedatangan Nabi Ibrahim untuk berdakwah, dimana kemudian beliau beristeri Siti Qanturah (Qatura/Keturah), yang kelak akan menjadi leluhur Bani Jawi (Melayu Deutro).
Dan kita telah sama pahami bahwa, Nabi Ibrahim berasal dari bangsa ‘Ibriyah, kata ‘Ibriyah berasal dari ‘ain, ba, ra atau ‘abara yang berarti menyeberang. Nama Ibra-him (alif ba ra-ha ya mim), merupakan asal dari nama Brahma (ba ra-ha mim).

Beberapa fakta yang menunjukkan bahwa Brahma yang terdapat di dalam Mitologi Jawa adalah Nabi Ibrahim, di antaranya :
1. Nabi Ibrahim memiliki isteri bernama Sara, sementara Brahma pasangannya bernama Saraswati.
2. Nabi Ibrahim hampir mengorbankan anak sulungnya yang bernama Ismail, sementara Brahma terhadap anak sulungnya yang bernama Atharva (Muhammad in Parsi, Hindoo and Buddhist, tulisan A.H. Vidyarthi dan U. Ali)…
3. Brahma adalah perlambang Monotheisme, yaitu keyakinan kepada Tuhan Yang Esa (Brahman), sementara Nabi Ibrahim adalah Rasul yang mengajarkan ke-ESA-an ALLAH.

Ajaran Monotheisme di dalam Kitab Veda, antara lain :
Yajurveda Ch. 32 V. 3 menyatakan bahwa tidak ada rupa bagi Tuhan, Dia tidak pernah dilahirkan, Dia yg berhak disembah
Yajurveda Ch. 40 V. 8 menyatakan bahwa Tuhan tidak berbentuk dan dia suci
Atharvaveda Bk. 20 Hymn 58 V. 3 menyatakan bahwa sungguh Tuhan itu Maha Besar
Yajurveda Ch. 32 V. 3 menyatakan bahwa tidak ada rupa bagi Tuhan
Rigveda Bk. 1 Hymn 1 V. 1 menyebutkan : kami tidak menyembah kecuali Tuhan yg satu
Rigveda Bk. 6 Hymn 45 V. 6 menyebutkan “sembahlah Dia saja, Tuhan yang sesungguhnya”
Dalam Brahama Sutra disebutkan : “Hanya ada satu Tuhan, tidak ada yg kedua. Tuhan tidak berbilang sama sekali”.

Kajilah dengan seksama bukanlah itu ajaran Ketuhanan/ketauhidan yang sama dalam islam.

Sumber :
http://rkhblog.wordpress.com/2007/09/10/hindu-dan-islam-ternyata-sama/
Ajaran Monotheisme di dalam Veda, pada mulanya berasal dari Brahma (Nabi Ibrahim). Jadi makna awal dari Brahma bukanlah Pencipta, melainkan pembawa ajaran dari yang Maha Pencipta.
4. Nabi Ibrahim mendirikan Baitullah (Ka’bah) di Bakkah (Makkah), sementara Brahma membangun rumah Tuhan, agar Tuhan di ingat di sana (Muhammad in Parsi, Hindoo and Buddhist, tulisan A.H. Vidyarthi dan U. Ali).

Bahkan secara rinci, kitab Veda menceritakan tentang bangunan tersebut :
Tempat kediaman malaikat ini, mempunyai delapan putaran dan sembilan pintu… (Atharva Veda 10:2:31)

Kitab Veda memberi gambaran sebenarnya tentang Ka’bah yang didirikan Nabi Ibrahim.
Makna delapan putaran adalah delapan garis alami yang mengitari wilayah Bakkah, diantara perbukitan, yaitu Jabl Khalij, Jabl Kaikan, Jabl Hindi, Jabl Lala, Jabl Kada, Jabl Hadida, Jabl Abi Qabes dan Jabl Umar.

Sementara sembilan pintu terdiri dari : Bab Ibrahim, Bab al Vida, Bab al Safa, Bab Ali, Bab Abbas, Bab al Nabi, Bab al Salam, Bab al Ziarat dan Bab al Haram.
Monotheisme Ibrahim

Peninggalan Nabi Ibrahim, sebagai Rasul pembawa ajaran Monotheisme, jejaknya masih dapat terlihat pada keyakinan suku Jawa, yang merupakan suku terbesar dari Bani Jawi.
Suku Jawa sudah sejak dahulu, mereka menganut monotheisme, seperti keyakinan adanya Sang Hyang Widhi atau Sangkan Paraning Dumadi.

Selain suku Jawa, pemahaman monotheisme juga terdapat di dalam masyarakat Sunda Kuno. Hal ini bisa kita jumpai pada Keyakinan Sunda Wiwitan. Mereka meyakini adanya ‘Allah Yang Maha Kuasa‘, yang dilambangkan dengan ucapan bahasa ‘Nu Ngersakeun‘ atau disebut juga ‘Sang Hyang Keresa‘.
Dengan demikian, adalah sangat wajar jika kemudian mayoritas Bani Jawi (khususnya masyarakat Jawa) menerima Islam sebagai keyakinannya. Karena pada hakekatnya, Islam adalah penyempurna dari ajaran Monotheisme (Tauhid) yang di bawa oleh leluhurnya Nabi Ibrahim.

Senin, 12 Desember 2011

CIBULAN DAN SUMUR TUJUH




kolam alami cibulan
Cibulan adalah kolam renang pemandian alami yang berada di kaki Gunung Ciremai, tepatnya di wilayah Desa  Manis Kidul  Kecamatan Jalaksana yang termasuk kabupaen Kuningan Jawa Barat. Suasana alam yang masih asri dengan kejernihan air yang tak pernah surut adalah pesona tersendiri.

Namun yang paling menarik adalah adanya ikan kancra bodas yang jinak dan bersahabat. Setiap pengunjung tidak hanya bisa menyaksikan bahkan bisa bercengkrama mandi bersama ikan-ikan. Sedikit ada mitos tentang ikan-ikan ini yang dianggap keramat, sesuai dengan julukanya yang diberikan masyarakat, "IKAN DEWA". Dewa bukan berarti dewa sesungguhnya tetapi kependekan dari kata GEDE dan DAWA.

ikan dewa (gede dawa)
Kolam pemandian Cibulan, cocok untuk rekreasi keluarga, unutuk menghilangkan kepenatan sehari-hari. Disamping rekreasi keluarga jg, sebenarnya Cibulan adalah tempat rekreasi religi juga, karena di salah satu sudut komplek pemandian Cibulan ada peninggalan Prabu Siliwangi yang sering dijiarahi untuk ngalap berkahnya, yaitu Sumur Tujuh Cibulan.

Sumur mempunyai nama yang berbeda dan di yakini mempunyai khasiat yang berbeda juga. Misalnya sumur cimulud atau lebih dikenal sebagai sumur kejayaan, bagi pejiarah yang mengambil air atau cuci muka di sumur ini di harapkan kan mendapatkan kejayaan dalam kehidupan.

sumur tujuh cibulan
Berikut nama-nama ketujuh sumur cibulan:
1. Sumur Cimulud yang dikenal dengan nama sumur kejayaan
2. Sumur Cigandasoli dikenal sebagai sumur kewaluyaan
3. Sumur Cigambuh dikenal sebagai sumur derajat
4. Sumur Cipasar dikenal sebagai sumur keselamatan
5. Sumur Ciwelut dikenal sebagai sumur kemulyaan
6. Sumur Cibarerang dikenal sebagai sumur kecantikan
7. Sumur Cigoong dikenal sebagai sumur keagungan.

Selasa, 01 November 2011

MAKOM-MAKOM KERAMAT SEPUTAR PAJAJAR


cungkup makom prabu siliwangi
Pesanggrahan Prabu Siliwangi Pajajar Rajagluh, dikelilingi makom-makom tua yang dikeramatkan penduduk sehubungan dengan sejarah Desa Pajajar. Sesuai denga Uga/wangsit Prabu Siliwangi, sebelum Prabu Siliwangi moksa, Sang Prabu memberikan empat pilihan kepada rakyatnya. pilihan yang pertama ikut moksa bersamanya, kedua mengabdi kepada negara yang sedang berjaya yang pada waktu itu adalah cirebon, sumedang larang dan banten lama. Pilihan ketiga adalah tetap di tempat semula walau keadaan akan berubah tak seperti sebelumnya, dan yang terakhir adlah yang tidak memilih ketiga-tiganya, golongan ini adalah golongan pengembara yang akan berpindah pindah tempat.

Mereka yang memilih untuk tetap menetap di tempat semula inilah yang akhirnya membuka perkampungan baru dan membuka sawah ladang sekaligus jadi pemelihara situs peninggalan Prabu siliwangi yang ditinggalkan moksa. Seiring waktu karena jasa-jasanya maka kuburannya pun dikeramatkan warga sebegai bentuk penghormatan.

Berikit adalah makom-makom keramat seputar Pesanggrahan Prabu Siliwangi Pajajar.

MAKOM MBAH BUYUT ARJUNA
Makom ini sebenarnya adalah petilasan bertapanya Arjuna, yang kalau dirunut dari sejarah babad pajajaran persi Cirebon, Prabu Siliwangi adalah ketururan dari Pandawa jadi tak heran jika Prabu Siliwangi mendirikan Pesanggrahan dekat dengan leluhurnya.

petilasan arjuna indrakila
MAKOM MBAH GORA DAN MBAH NAMBANG KEMUNING
Mbah Gora adalah seorang tokoh di Pajajar yang merupakan salah satu penyebar agama islam yang sejaman dengan Mbah Kuwu Sangkan Cirebon Girang. Sahabat seperjuangan beliau adalah Mbah Buyut Bungsu, Mbah Buyut Tajug dan Mbah Buyut Saca.
Beliau dimakamkan di tengah-tengah pemakaman umum Pajajar, dan diberi cungkup yang bisa dimasuki beberapa orang pejiarah.

Walau di sato komplek yang sama tapi Makom Mbah Nambang Kemuning tidak memakai cungkup seperti makom mbah Gora. Bentuk kuburnya seperti kubur pada umumnya yang membedakan hanya bentuknya yang lebih besar dari makam penduduk yang lainya.


MAKOM MBAH BUYUT BUNGSU
Letaknya tak begitu jauh dari makomnya Mbah Gora, tepatnya sebelah utara dari makom mbah Gora. Beliau sangat berperan dalam penentuan batas wilayah desa Pajajar. Cungkup makom yang sederhana di tengah-tengah rimbunan pohon yang sudah berumur puluhan tahun, memberikan kesan mistik yang kental.


MAKOM MBAH BUYUT TAJUG
Mbah Buyut Tajug adalah kuwu ke dua di pajajar, sementara yang pertamanya adalah mbah buyut Saca. Letak makom mbah Buyut Tajug sedikit terpencil karena berada di ujung desa dan berada di tengah-tengah persawaan

MAKOM MBAH BUYUT SACA
Beliau adalah kuwu pertama di Pajajar. letak makomnya antara makom Mbah Buyut Bungsu dan Mbah Buyut Tajug. Berada diatas bukit kecil yang dimanpaatkan penduduk untuk lahan pembibitan. Bangunan cukup  sederhana untuk tokoh yang punya jasabesar bagi desa Pajajar.

MAKOM MBAH BUYUT MASDAR
Mbah Masdar diyakini berasal daari kerajaan kuningan yang datang untuk mengajak tanding pada jago pajajar. Namun seiring kebijakan orang2 pajajar justru Mbah Masdar tertarik untuk menetap di Pajajar sampai akhir hayatnya dan dimakamkan di hutan plalangon. Kesan mistisnya cukup kuat walau makamnya tidak bercungkup. Tunpukan batubatu yang sudah berusia tua membentuk kuburan yang tertutup rindangnya pepohonan yang sudah berusia puluhan bahkan ratusan tahun.
Letaknya sejajar antara bukit tempat mbah Bungsu dimakamkan, yang hanya berjarak ratusan meter.

MAKOM MBAH BUYUT POKEK
Mbah buyut Pokek adalah sabutan untuk Mbah Buyut Haji Wanasari. Baliau adalah seorang pendatang dari jajirah arab yang ikut perjuangan Mbah Gora menyebarkan agama islam di daerah Pajajar. Bangunan cungkup makomnya sudah di buat permanen yang cukup memadai. Letaknya diatas sebuah bukit kecil dengan pohonan yang cukup rindang dan lebat. Walau tak jauh dari rumah penduduk tapi kesan mistisnya cukup kental untuk mereka yang suka bertirakat.

Selain makom-makom diatas ada juga makom yang lain yang dikeramatkan dan sering di jiarahi yaitu makom mbah Angga Laksana dan Mbah Sulaeman. Keduanya sebenarya bukan termasuk makam tua yang sejaman dengan Makam diatas. Mbah Sulaeman dan Mbah Anggalaksana adalah tokoh Masarakat dijaman kolonial yang ikut berjuang menentang Belanda jadi tidak sejaman dengan makom-makom diatas.